Memaknai Batik di Kala Teknologi Bertemu Tradisi

Mulai dari satu sudut, batik itu jauh sekali. Seiring waktu, eksperimen tradisional menghilang atau tetap konstan. Saat ini, batik bukan hanya milik generasi tua dan lebih lestari, model batik yang bervariasi juga mewarnai gaya hidup milenial. Untuk itu, batik diyakini tidak ketinggalan untuk maju di era perkembangan teknologi yang pesat ini.

Menurut perancang batik fraktal Nancy Margriet mengatakan, dalam memaknai Hari Batik Nasional, sejalan dengan era dan generasi baru, cara menafsirkan kain peradaban ini harus mengikuti perkembangan zaman. Bagaimana bangsa Indonesia bisa menghadirkan jati diri bangsa yang disimpulkan dalam filosofi batik dengan teknologi terkini.

Melestarikan batik dan mengenalkannya harus bersentuhan dengan teknologi. Jika tidak, itu mungkin tidak dikenali. Karena sekarang, saluran utama memperkenalkan sesuatu pada teknologi. Selain itu, cara lain adalah menjelajahi bidang budaya pop. Dengan cara demikian menurut saya akan ada batik heritage dan pelestariannya akan terus berlanjut, seperti yang tersentuh media mainstream.

Atas dasar itulah, Nancy dan beberapa temannya melakukan inovasi dengan membuat software jBatik. Itulah software yang dibuat khusus untuk desain motif fraktal batik.

Batik fraktal sendiri merupakan batik yang dirancang dengan rumus fraktal, merupakan cabang matematika yang mempelajari pengulangan atau iterasi dan persamaan diri.

Dengan inovasi ini pola batik yang terencana dengan efektif akan menghasilkan karya yang jauh lebih berbeda, karena dengan software jBatik pola utama dapat dihasilkan dalam ribuan variasi desain yang tidak terbatas. Untuk itu, jBatik berupaya menjadikan perajin batik sebagai tujuan utamanya, untuk ikut serta mengatasi salah satu permasalahan yang dihadapi perajin batik tradisional, yaitu kemandekan model desain.

Setelah mendapat sambutan hangat, perluasan jBatik kini telah melalui berbagai versi. Sejak diluncurkan pada tahun 2008, puluhan ribu motif batik fraktal telah dihasilkan oleh jBatik, sehingga memperkaya corak batik yang ada di Indonesia, tanpa meninggalkan nilai budaya yang sudah lama mapan.

Batik adalah salah satu tanda zaman. Sejarah batik tidak akan hilang karena sudah menjadi identitas bangsa. Untuk jaman sekarang, menurut saya generasi muda berhak membuat motif batik sendiri tanpa melupakan motif tradisional yang ada. Karenanya, dengan melihat dan menciptakan batik modern, generasi muda akan mengenal budayanya dan memperkuat kecintaannya pada tradisi budaya Indonesia yaitu batik.

Meski menggunakan software, batik fraktal tidak menghilangkan proses pengolahan batik tradisional. Setelah pola dibuat di komputer, gambar tersebut kemudian ditelusuri ke kain untuk dijadikan batik. Juga batik tulis dengan menggunakan canting dan malam atau cap. Proses pewarnaannya masih tradisional, seperti pengrajin Lasem, Solo, Pekalongan, Yogyakarta dan masih banyak daerah lain yang sudah bekerjasama dengan jBatik.

Dilema pencetakan

Sejak zaman dan modernisasi, serta untuk memenuhi kebutuhan pasar, proses percetakan batik sudah mulai ada dan berkembang. Prosesnya lebih cepat dan biaya produksi lebih murah, dengan hasil yang lebih besar. Namun, desain batik tersebut lebih sederhana dan cenderung lebih mirip satu sama lain. Perkembangan percetakan batik telah mengurangi jumlah produsen batik tradisional. Namun di satu sisi produksi batik justru mengalami peningkatan.

Divisi riset batik dari Yayasan Batik Indonesia (YBI) Afif Syukur mengatakan, batik cap berasal dari kebutuhan biaya pembuatan yang mudah, serta pengerjaan yang cepat dengan bantuan teknologi. Menurutnya, tidak masalah jika penggunaannya bukan kultural.

Selain itu, masyarakat harus siap dan dididik. Namun sayangnya saat ini belum ada kesadaran yang tinggi karena minimnya sosialisasi. Dalam hal ini sebenarnya pemerintah telah mengeluarkan SNI untuk batik tulis dan batik cap, namun yang lebih penting adalah kesadaran masyarakat terutama para penjual yang perlu jujur ‚Äč‚Äčmengatakan kepada pembeli bahwa itu asli dan tiruan.

Bisa dikatakan hal ini menjadi dilema dalam dunia budaya Indonesia khususnya dalam hal batik. Tentu saja memakmurkan perekonomian tidak salah, namun ada yang dikorbankan oleh pilihan faktor ekonomi tersebut, yaitu menurunnya kearifan lokal berupa batik sebagai produk budaya yang dianggap luhur.

Leave a Reply