Mengapa Banyak Atlet Terkena Infeksi Covid-19?

Pandemi Covid-19 semakin mewabah di seluruh dunia. Beberapa perlombaan olahraga terpaksa ditunda atau bahkan dibatalkan untuk mengurangi risiko penyebaran wabah Covid-19. Berbagai upaya telah dilakukan oleh banyak negara.

Atlet profesional, termasuk pesepak bola, menurut dominoqq tidak lepas dari ancaman virus Covid-19 yang kini mewabah di seluruh dunia. Beberapa nama besar yang terbukti positif terkena virus tersebut seperti Daniel Rugani, Mikael Arteta, Callum Hudson-Odoi, Patrick Cutrune dan Paulo Dybala. Selain pemain sepak bola, beberapa atlet dari cabang lain seperti basket, balap sepeda, baseball, golf dan berbagai cabang lainnya juga telah terjangkit virus Covid-19.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa begitu banyak atlet yang terinfeksi virus ini? Padahal yang kita tahu adalah atlet harus memiliki tubuh yang bugar dan sehat. Mereka juga selalu didampingi oleh ahlinya agar asupan gizinya selalu terjamin. Dengan tubuh yang sehat dan nutrisi yang cukup, atlet juga harus memiliki tingkat kekebalan yang tinggi. Tidakkah Anda mengatakan bahwa salah satu cara untuk mencegah virus ini adalah dengan menjaga kekebalan?

Pelatihan sains pelatihan mengenali kurva yang menunjukkan hubungan antara intensitas pelatihan dan tingkat kekebalan seseorang. Melakukan olahraga di bagian tertentu ternyata bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

Namun, ternyata intensitas latihan tidak selalu berbanding lurus dengan kekebalan tubuh. Ada titik di mana jika seseorang berolahraga lebih dari itu, mereka sebenarnya akan mengurangi kekebalannya. Teori ini dikenal sebagai kurva J, dimana kurva seperti huruf J menunjukkan bahwa terlalu banyak berolahraga justru membuat kekebalan tubuh lebih lemah, bahkan lebih lemah daripada orang yang tidak berolahraga.

Pesepakbola profesional dan atlet elit dari cabang lain pasti akan memaksa tubuh mereka untuk mendorong batas untuk menunjukkan performa di luar level manusia normal. Untuk mencapai level tersebut, pelatihan yang mereka lakukan tentunya bukan sekedar pelatihan biasa. Hampir setiap hari dalam hidupnya seorang atlet akan melatih tubuhnya hingga tingkat yang melebihi kemampuan manusia biasa.

Dalam kondisi inilah atlet memiliki sistem kekebalan yang lemah. Tubuhnya bisa bugar dan kuat. Ini dapat memiliki VO2Max dan kekuatan otot yang hebat. Namun bukan berarti dia memiliki kekebalan yang sama.

Selain itu, sejumlah kecil atlet menderita sindrom latihan berlebihan. Dalam akun Soccerilaz menjelaskan bahwa sindrom overtraining terjadi pada seseorang yang melakukan olah raga secara berlebihan bersamaan dengan tekanan lain dalam hidupnya seperti emosi, kecemasan, keuangan, dan lain-lain. Dengan demikian, kondisi ini menyebabkan tubuh gagal melakukan penyesuaian fisiologis dan menyebabkan penurunan kinerja fisik.

Olahraga berlebihan juga membuat trauma jaringan otot rangka dan membangun sitokin pro-inflamasi. Hal tersebut membuat tubuh mudah terserang penyakit, terutama saluran pernafasan. Dalam ilmu keolahragaan, kondisi ini disebut dengan periode jendela terbuka.

Bagi Anda yang pernah lari maraton atau mengikuti turnamen olahraga yang membutuhkan banyak tenaga, biasanya sehari atau dua hari nanti Anda akan bersin seolah-olah tubuh Anda sedang flu. Ini adalah reaksi yang dilepaskan oleh tubuh saat berada dalam periode jendela terbuka. Kondisi tubuh saat imunitas rendah dan sangat mudah terserang penyakit.

Masa buka jendela ini biasanya berlangsung 3-84 jam setelah tubuh melakukan aktivitas yang sangat berat. Bisa dibayangkan kondisi tubuh atlet profesional yang hampir setiap hari mengalami kondisi ini. Itulah mengapa seorang atlet membutuhkan berbagai macam suplemen vitamin agar tubuhnya selalu siap menghadapi keadaan tersebut.

Keputusan berbagai asosiasi olahraga untuk menunda pertandingan merupakan keputusan yang sangat jitu. Pasalnya, ancaman Covid-19 tidak hanya hadir untuk para suporter yang hadir di depan umum untuk pertandingan olahraga, tetapi juga bagi para atlet yang tidak memiliki kekebalan yang baik akibat kelelahan fisik setelah latihan dan kompetisi yang intens.

Kita semua harus sadar bagaimana situasi saat ini mengancam semua kalangan tanpa kecuali. Seorang atlet profesional yang memiliki gaya hidup normal dengan fasilitas yang terjamin dan dikelilingi oleh tenaga ahli hanya dapat tertular virus Covid-19. Selain itu, kita adalah manusia normal dengan gaya hidup dan kebiasaan makan yang tidak teratur.

Leave a Reply