Singapura akan Memulangkan Wisatawan yang Belum Divaksin

Singapura akan Memulangkan Wisatawan yang Belum Divaksin

Singapura berencana menerapkan peraturan baru yang cukup ketat untuk wisatawan, yaitu memulangkan siapa saja yang belum divaksin. Langkah ini ditempuh pemerintah Singapura sebagai upaya melindungi negaranya dari teror penyakit menular.

Sebagai negara kecil, Singapura merupakan kawasan yang cukup populer bagi wisatawan dunia. Mengutip AFP, pada tahun 2017 negara ini dikunjungi sekitar 17,4 juta wisatawan.

Tentu saja hal tersebut membawa dampak positif dari segi pendapatan, namun sisi negatifnya adalah Singapura menjadi negara yang rentan akan penyakit.

Pada tahun 2003, Singapura pernah dilanda wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Wabah tersebut menewaskan 33 orang di Singapura, dan menyebabkan kerugian besar pada ekonomi serta memengaruhi jumlah wisatawan internasional.

Terkait dengan peraturan internasional saat ini, wisatawan yang berkunjung ke negara lain hanya diwajibkan melakukan vaksinasi untuk mencegah penyakit demam kuning.

Namun saat ini pengunjung yang belum divaksinasi tetap bisa masuk ke Singapura, dengan syarat mendapatkan vaksin. Sedangkan untuk beberapa kasus yang sudah serius, mereka harus diisolasi atau berada di bawah pengawasan pihak berwenang Singapura.

Pemerintah Singapura tak menutup kemungkinan untuk mewajibkan vaksinasi terhadap berbagai jenis penyakit. Hal itu tergantung dengan situasi ancaman kesehatan global yang sedang berlangsung.

Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan upaya itu dilakukan dengan maksud menjaga Singapura dari beberapa penyakit seperti flu burung, ebola, dan sindrom pernafasan Timur Tengah.

“Sebagai pusat perdagangan global, sangat penting untuk tetap waspada terhadap ancaman kesehatan. Upaya yang harus dilakukan adalah dengan melindungi masyarakat dari berbagai penyakit yang membahayakan sekaligus menular,” tulis pihak Kementerian Kesehatan Singapura, seperti yang dikutip dari AFP, Rabu (27/6).

Wanita yang Suka Bangun Pagi Lebih Jarang Kena Depresi

Wanita yang Suka Bangun Pagi Lebih Jarang Kena Depresi

Sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa wanita yang bangun pagi berisiko rendah terkena depresi. Studi ini dimuat dalam Journal of Psychiatric Research.

Periset menemukan bahwa mereka yang secara alami bangun lebih awal memiliki risiko lebih rendah terkena depresi sebab mereka dapat terpapar sinar matahari lebih lama daripada mereka yang bangun siang.

Studi yang dilakukan oleh University of Colorado dan Women’s Hospital Boston ini melibatkan sebanyak 32 ribu wanita. Mereka memeriksa hubungan antara gangguan perasaan atau mood dan chronotype yaitu seberapa awal atau seberapa terlambat seseorang melakukan sinkronisasi dalam 24 jam sehari.

Gejala-gejala ini umumnya terwujud dalam skala mulai dari ‘morning larks‘ (mereka yang suka bangun pagi dan tidur awal) dan ‘night owl’ (mereka yang memilih rutinitas sebaliknya).

Peneliti menyimpulkan mereka yang berada pada skala ‘morning larks‘ memiliki peluang 12-27 persen lebih sedikit untuk terkena depresi.

Analisis dimulai pada 2009 dengan melibatkan 32ribu lebih perawat wanita. Para responden rata-rata berusia 55 tahun. Setelah tes, sebanyak 37 persen memiliki kebiasaan bangun pagi, sebanyak 53 persen mereka tipe di tengah-tengah, dan sebanyak 10 persen adalah ‘night owl‘.

Setelah studi selesai, tim periset menemukan lebih dari dua ribu kasus depresi yang berkembang dan sebanyak 290 kasus dialami mereka yang berasal dari kategori ‘night owl’.

Berdasar riset, mereka yang bangun siang lebih cenderung terkena depresi. Bahkan situasi ini bakal lebih buruk saat mereka juga ‘terikat’ dengan faktor-faktor lain seperti, hidup sendiri, merokok, dan masih single.

“Ini memberitahu kita bahwa mungkin ada efek chronotype pada risiko depresi yang tidak didorong oleh faktor lingkungan dan gaya hidup,” kata ketua tim penulis, Celine Vetter dikutip dari The Independent.